Rabu, 28 Maret 2012

kala IV


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Mochtar, 2002). Persalinan normal atau persalinan spontan adalah bila bayi lahir dengan letak belakang kepala tanpa melalui alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam (Wiknjosastro, 2002).
Jadi persalinan adalah proses pengeluaran konsepsi yang telah cukup bulan melalui jalan lahir atau jalan lainnya, dengan bantuan atau tanpa bantuan. Macam-macam persalinan, yaitu :
·      Persalinan spontan       : Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan sendiri dan melalui jalan lahir
·      Persalinan buatan        : Persalinan yang dibantu dengan tenaga dari luar misalnya forcep
·      Persalinan anjuran       : Persalinan yang tidak dimulai sendiri, tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocyn / prostaglandin.
Persalinan kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta sampai 1-2 jam setelah itu. Pemantauan pada kala IV :  kelengkapan plasenta dan selaput ketuban  perkiraan pengeluaran darah, laserasi atau luka episiotomi pada perineum dengan perdarahan aktif. Keadan umum dan tanda-tanda vital ibu.Untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
B.     Rumusan Masalah

1.      Mengetahui fisiologi kala IV
2.      Evaluasi uterus: konsistensi, atonia
3.      Pemeriksaan servix, vagina dan perineum
4.      Pemantauan dan evaluasi lanjut : tanda vital, kontraksi uterus, lochea, kandung kemih, perineum
C.    Tujuan
1.        Tujuan Umum
Mampu memahami secara menyeluruh tentang fisiologi kala IV dalam persalinan dan asuhan kebidanan yang diberikan pada Kala IV persalinan.
2.        Tujuan Khusus
a.       Dapat mengetahui batasan fisiologi Kala IV.
b.      Dapat menjelaskan penyebab terjadinya Kala IV.
c.       Dapat mengetahui yang dapat dilakukan pada pemantauan persalinan Kala IV.
d.      Dapat mengetahui tanda bahaya Kala IV















BAB II
PEMBAHASAN
1.      Fisiologi kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk memantau kondisi ibu.keadaan dimana segera setelah terlahirnya plasenta terjadi perubahan maternal terjadi pada saat stress fisik dan emosional akibat persalinan dan kelahiran mereda dan ibu memasuki penyembuhan pascapartum dan bonding (ikatan). Banyak perubahan fisiologi yang terjadi selama persalinan dan pelahiran kembali ke level pra-persalinan dan menjadi stabil selama 1 jam pertama pascapartus.
Perdarahan pasca persalinan adalah suatu keadian mendadak dan tidak dapat diramalkan yang merupakan penyebab kematian ibu d seluruh dunia. Sebab yang paling umum dari perdarahan pasca persalinan dini yang berat(yang terjadi dalam 24 jam setelah melahrkan) adalah atonia uteri (kegagalan rahim untuk berkontraksi sebagaimana mestinya setelah melahirkan). Plasenta yang tertinggal, vagina atau mulut rahim yang terkoyak an uterus yang turun atau inversi, juga merupakan sebab dari perdarahan pasca persalinan.

2.      Evaluasi uterus: konsistensi, atonia
Setelah kelahiran plasenta, periksa kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal dalam uterus akan mengganggu kontraksi uterus sehingga menyebabkan perdarahan.
Jika dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik, maka akan terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan tindakan rangsangan taktil (massase) fundus uteri dan bila perlu dilakukan Kompresi Bimanual.
Penurunan servix/uterus ke dalam vagina dapat di kaji. Kebanyakan uterus yang sehat dapat berkontraksi dengan sendrinya. Apabila bidan menetapkan bahwa uterus relaksasi atau atonik, penyebabnya harus di kaji dan penatalaksanaan untuk sepenuhnya membantu kontraksi uterus segera di mulai. Kegagalan mengatasi masalah atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan pasca partum.

Setelah kelahiran plasenta uterus dapat diraba ditengah-tengah abdomen ± 2/3 atau ¾ antar simfisis pubis dan umbilicus. Jika uterus berada ditengah atau diatas umbilicus, menandakan adanya darah dandekuan darah dalam uteru. Jika uterus berada diatas umbilicus dan begeser padaumumnya kesebelah kanan menandakan bahawa kandung kemih dalam keadaan penuh.
Faktor- faktor yang pertimbangan adanya aonia uterus adalah :
1.      Konsistensi uterus, uterus harus berkontraksi efektif, teraba padat dan keras. Tanda-tanda bahwa kontraksi uterus dalam keadaan baik adalah konsistensi keras, bila konsistensi lunak harus dilakukan massase uterus unutk memperkuat kontraksi.
2.      Potensial untuk relaksasi uterus, termasuk hal-hal berikut:
§  Riwayat atonia uterus pada kehamilan sebelumnya
§  Status ibu sebagai grand multipara
§  Distensi berlebihan pada uterus misalnya pada kehamilan kembar, polihidramion, atau makrosomia
§  Induksi atau augumentasi persalinan
§  Persalinan presipitasi
§  Persalinan memanjang
3. kelengkapan plasenta dan membran pada saat inspeksi, bukti kemungkinan pragmen plasenta atau membran tertingla di dalam uterus.
4.  Status kandung kemih
5. Ketersediaan orang kedua untuk memantau konsistensi uterus dan aliran lochea, dan membantu massase uterus
6.  Kemampuan pasangan ibu-bayi untuk memulai pemberian ASI
Jika ibu bermaksud menyusui, menempatkan bayi di dada dapat menstimulasi kontraksi uterus dan meningkatkan tonus yang kuat. Jika hal ini tidak mungkin, penggunaan oksitosik dapat di pertimbangkan. Faktor-faktor yang di pertimbangkan dalam penggunaan obat oksitosik selama periode awal pascapartus sebaiknya mencakup kebutuhan wanita untuk terap ini, dan kerja dan pengaruh berbagai obat yang tersedia. Kerja, efek, dosis, dan rute obat-obatan oksitosik yang berbeda, dan penggunaannya alam mengendalikan perdarahan pascapartus segera.




3.      Pemeriksaan servix, vagina dan perineum
Setelah memastikan uterus berkontraksi efektif dan perdarahan berasal dari sumber lain, bidan menginspeksi perineum, vagina bawah, dan area periuretra untuk mengetahui adanya memar, pembentukan hematoma, laserasi, atau pembuluh darah yang robek atau mengalami perdarahan. Jika efisiotomi telah dilakukan, evaluasi kedalaman dan perluasannya.
Berikut, pertimbangkan untuk menginspeksi forniks dan serviks vagina untuk mengetahui laserasi atau cidera. Indikasi untuk pemeriksaan seperti itu mencakup kondisi berikut :
1)      Aliran menetap atau sedikit aliran perdarahan pervaginam berwarna merah terang, dari bagian atas tiap laserasi yang diamati, setelah kontraksi uterus dipastikan
2)      Persalinan cepat atau presipitatus
3)      Manipulasi serviks selama persalinan, untuk mengurangi tepi anterior
4)      Dorongan maternal (mengejan) sebelum diltasi serviks lengkap
5)      Pelahiran pervaginam operatif dengan forsep atau vakum
6)      Pelahiran traumatik, distosia bahu.
Adanya salah satu faktor ini mengindikasikan kebutuhan untuk inspeksi serviks, dan memastikan kebutuhan untuk melakukan perbaikan. Beberapa klinisi menganjurkan inspeksi serviks yang rutin, menggunakan rasional bahwa hal ini mengurangi laserasi serviks sebagai penyebab perdarahan berikutnya.
Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet-lecet. Untuk mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus dengan rectal toucher.
Laserasi dapat dikategorikan dalam :
1.      Derajat pertama     :  laserasi mengenai mukosa dan kulit perineum, tidak perlu dijahit.
2.      Derajat kedua        :  laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu dijahit).
3.      Derajat ketiga        :  laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani.
4.      Derajat empat        :  laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani yang meluas hingga ke rektum. Rujuk segera.
Prinsip Penjahitan Luka Episiotomi/ Laserasi Perineum
Indikasi
Episiotomi
1.      Gawat janin
2.      Persalinan per vaginam dengan penyulit (sungsang, tindakan vakum ataupun forsep).
3.      Jaringan parut (perineum dan vagina) yang menghalangi kemajuan persalinan.
Tujuan Penjahitan :
1.      Untuk menyatukan kembali jaringan yang luka.
2.      Mencegah kehilangan darah.
Keuntungan Teknik Jelujur:
Selain teknik jahit satu-satu, dalam penjahitan digunakan teknik penjahitan dengan model jelujur. Adapun keuntungannya adalah :
·         Mudah dipelajari.
·         Tidak nyeri.
·         Sedikit jahitan.
Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam melakukan penjahitan perlu diperhatikan tentang:
1.      Laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan, tidak perlu dilakukan penjahitan.
2.      Menggunakan sedikit jahitan.
3.      Menggunakan selalu teknik aseptik.
4.      Menggunakan anestesi lokal, untuk memberikan kenyamanan ibu.
gambar 2 teknik anestesi
Manfaat  Anestesi Lokal:
·         Ibu lebih merasa nyaman (sayang ibu).
·         Bidan lebih leluasa dalam penjahitan.
·         Lebih cepat dalam menjahit perlukaannya (mengurangi kehilangan darah).
·         Trauma pada jaringan lebih sedikit (mengurangi infeksi).
·         Cairan yang digunakan: Lidocain 1 %.
Tidak Dianjurkan Penggunaan Lidocain 2 % (konsentrasinya terlalu tinggi dan menimbulkan nekrosis jaringan).
Lidocain dengan epinephrine (memperlambat penyerapan lidocain dan memperpanjang efek kerjanya).
Nasehat Untuk Ibu
Setelah dilakukan penjahitan, bidan hendaklah memberikan nasehat kepada ibu. Hal ini berguna agar ibu selalu menjaga dan merawat luka jahitannya. Adapun nasehat yang diberikan diantaranya :
·         Menjaga perineum ibu selalu dalam keadaan kering dan bersih.
·         Menghindari penggunaan obat-obat tradisional pada lukanya.
·         Mencuci perineum dengan air sabun dan air bersih sesering mungkin.
·         Menyarankan ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi yang tinggi.
·         Menganjurkan banyak minum.
·         Kunjungan ulang dilakukan 1 minggu setelah melahirkan untuk memeriksa luka jahitan.

4.      Pemantauan dan evaluasi lanjut : tanda vital, kontraksi uterus, lochea, kandung kemih, perineum

Pemantauan Kala IV
Saat yang paling kritis pada ibu pasca melahirkan adalah pada masa post partum. Pemantauan ini dilakukan untuk mencegah adanya kematian ibu akibat perdarahan. Kematian ibu pasca persalinan biasanya tejadi dalam 6 jam post partum. Hal ini disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan eklampsia post partum. Selama kala IV, pemantauan dilakukan 15 menit pertama setelah plasenta lahir dan 30 menit kedua setelah persalinan. selama 1 jam pertama setelah persalinan, tanda-tanda vital ibu, uterus, lochea, perineum, dan kandung kemih dipantau dan dievaluasi secara teratur sampai semua stabil dalam kisaran normal.

1.      Tanda vital
Pemantauan tekanan darah ibu, nadi, dan pernafasan dimulai segera setelah plasenta dan dilanjutkan setiap 15 menit sampai tanda-tanda vital srabil pada level sebelum persalinan. Suhu diukur paling tidak sekali selama periode. Vital sign – Tekanan darah normal < 140/90 mmHg; Bila TD < 90/ 60 mmHg, N > 100 x/ menit (terjadi masalah); Masalah yang timbul kemungkinan adalah demam atau perdarahan. Suhu – S > 380 C (identifikasi masalah); Kemungkinan terjadi dehidrasi ataupun infeksi.

2.      Konsistensi Uterus dan Lokia
Tonus uterus dan jumlah aliran lokia dikaji secara simultan dengan massase regular fundus uteri. Tonus uterus dan tinggi fundus uteriKontraksi tidak baik maka uterus teraba lembek; TFU normal, sejajar dengan pusat atau dibawah pusat; Uterus lembek (lakukan massase uterus, bila perlu berikan injeksi oksitosin atau methergin).
PerdarahanPerdarahan normal selama 6 jam pertama yaitu satu pembalut atau seperti darah haid yang banyak. Jika lebih dari normal identifikasi penyebab (dari jalan lahir, kontraksi atau kandung kencing).
Menyusui merupakan metode efektif untuk meningkatkan tonus uterus, selain itu dapat dilakukan dengan cara mempertahankan massase ringan yang juga dapat mengurangi perdarahan.

3.      Perineum
Evaluasi berkelanjutan untuk edema, memar dan pembentukan hematoma yang mungkin dilakukan pada setiap pengecekan aliran lokia. Hal ini termasuk pengamatan area perineum untuk mendeteksi hemoroid.
4.      Kandung Kemih
Kandung kemih dikaji sekali lagi menjelang akhir waktu ini dan harus dikosongkan jika penuh dan menggeser uterus. Bila kandung kencing penuh, uterus berkontraksi tidak baik.
ASUHAN YANG DAPAT DIBERIKAN
Setelah plasenta lahir, berikan asuhan yang berupa :
1.      Rangsangan taktil (massase) uterus untuk merangsang kontraksi uterus.
2.      Evaluasi tinggi fundus uteri – Caranya : letakkan jari tangan Anda secara melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar dengan pusat atau dibawah pusat.
3.      Perkirakan darah yang hilang secara keseluruhan.
4.      Pemeriksaan perineum dari perdarahan aktif (apakah dari laserasi atau luka episiotomi).
5.      Evaluasi kondisi umum ibu dan bayi.
6.      Pendokumentasian.







No
Penilaian
Penilaian klinik kala IV
1
Rangsangan taktil uterus dilakukan untuk merangsang terjadinya kontraksi uterus yang baik. Dalam hal ini sangat penting diperhatikan tingginya fundus uteri dan kontraksi uterus
2
Pengeluaran pervaginam
Pendarahan: Untuk mengetahui apakah jumlah pendarahan yang terjadi normal atau tidak. Batas normal pendarahan adalah 100-300 ml.
Lokhea: Jika kontraksi uterus kuat, maka lokea tidak lebih dari saat haid
3
Plasenta dan selaput ketuban
Periksa kelengkapannya untuk memastikan ada tidaknya bagian yang tersisa dalam uterus.
4
Kandung kencing
Yakinkan bahwa kandung kencing kosong. Hal ini untuk membantu involusio uteri
5
Periksa ada tidaknya luka / robekan pada perineum dan vagina.
6
Kondisi ibu
Periksa vital sign, asupan makan dan minum.
7
Apakah bernafas dengan baik?
Apakah bayi merasa hangat?
Bagaimana pemberian ASI?
Diagnosis:
No
kategori
Keterangan
1
Tonus – uterus tetap berkontraksi.
Posisi – TFU sejajar atau dibawah pusat.
Perdarahan – dalam batas normal (100-300ml).
Cairan – tidak berbau.
2
Kala IV dengan penyulit
Sub involusikontraksi uterus lemah, TFU diatas pusat.
Perdarahan – atonia, laserasi, sisa plasenta / selaput ketuban.


BAB IV
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Kala IV adalah dimulai sejak plasenta lahir 1-2 jam sesudahnya,hal-hal ini yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali kebentuk normal.Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan taktil (masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat.perlu juga diperhatikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa sedikitpun dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut. Perkiraan pengeluaran darah, laserasi atau luka episiotomi serta pemantauan dan evaluasi lanjut  juga perlu diperhatikan.
2.      Saran
Bagi keluarga diharapkan agar lebih aktif, turut serta dalam menjaga kesehatan ibu. Dan dapat memberikan secara psikis maupun moril terhadap ibu yang mengalami masa post partum.Mendukung kinerja pemerintah dalam menurunkan AKI.
Saran yang dapat diberikan pada ibu yang mengalami penjahitan pada daerah perinium, yaitu :
·         Menjaga perineum ibu selalu dalam keadaan kering dan bersih.
·         Menghindari penggunaan obat-obat tradisional pada lukanya.
·         Mencuci perineum dengan air sabun dan air bersih sesering mungkin.
·         Menyarankan ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi yang tinggi.
·         Menganjurkan banyak minum.
·         Kunjungan ulang dilakukan 1 minggu setelah melahirkan untuk memeriksa luka jahitan.

Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan diharapakan agar meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan asuhan kebidanan, serta lebih peka untuk mengidentifikasi tanda bahaya dalam persalinan agar dapat dengan segera ditangani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar